DUNIA SANDIWARA

Posted: 14/10/2012 in Uncategorized

 Pemain      : Vivi, Laela, Puspa, Johan

Sesuai jam olahraga, di kantin sekolah . vivid an laela pergi ke kantin sekolah. Vivi duduk bersebrangan dengan laela, dipisahkan sebuah meja. Johan tampak berdiri disudut ruangan.

Vivi            : (kepada penjaga kantin) bu, mie goring dan the botol dua. (kepada laela) hatai-hati  

                    kepada laki-laki, laela. Semua lelaki hanya tahu menyakiti wanita!

Laela         : menurutku juga begitu. Mereka begitu pandai bersandiwara. Mereka memiliki

                   berbagai model topeng. Tinggal pilih dan tinggal pakai. Mengapa sampai ada makhluk            

                   seperti itu didunia ini ?                 

Vivi            : iya, heran saya. (penjaga kantin menyajikan mie goring dan the botol, masing-masing  

                    dihadapan vivid an laela). Ayo la, dimakan dan diminum ! (vivi dan laila meraih teh botol dan menyedotnya. Kemudian, meraih piring masing-masing. Mereka makan dan diam sejenak). Heran saya, mengapa mereka di lahirkan sebagai pembohong-pembohong besar. Dihadapan kita mereka menyembah-nyembah dan menebarkan kata-kata cinta sehingga kita terlena. Tetapi, dibelakang kita, tiba-tiba mereka menjadi garang, menguber-uber wanita lain. Bukan itu munafik namanya ?

Johan          : (dari sudut ruangan kantin ) bukan ! (tertawa) itu alamiah namanya.

Vivi              : (tersentak, menoleh kea rah datangnya suara) uuuuuuu, koit lu ! (berdiri dan mengambil botol seolah olah hendak dilemparkannya kearah johan. Johan ngacir sambil tertawakeras-keras). Dasar laki-laki pengecut! (duduk kembali dan melanjutkan makan mie goreng. Sejenak mereka terdiam)

Puspa          : (datang dan duduk disamping laela) hai, lagi asik nih kayanya ?

Vivi              : hai, puspa! Biasalah lagi pada negrumpi hehehe .. makan pus !

Puspa          : terima kasih. Udah duluan tadi. Negrumpin apaan sih ?

Vivi              : aku bilang sama laela, semua laki-laki itu munafik dan pengecut!

Puspa          : kenapa kamu berpendapat begitu ?

Vivi              : tidak penting alasanya. Tetapi beranikanlah kalian menantang pendapatku itu ? lelaki memang tidak pernah berani bertanggung jawab. Mereka munafik dan pengecut, penuh sandiwara.

Puspa          : hmmmmmm .. mungkin apa kamu kecewa?

Vivi              : ah ngaco! Bagaimana aku akan kecewa? Pacaran saja aku gak ogah!

Pupsa          : tapi, terus terang, saya tidak sependapat dengan pandanganmu itu! Setidak-tidaknya, johan tentu tidak seperti itu.

Vivi              : puspa, berhati-hatilah. (sambil megang botol minuman). Tampaknya kau sudah termakan oleh rayuan si johan gombal itu!

Puspa          : tidak! Saya justru mencibtainya ..

Vivi              : (meletakan batol minuman, lalu memandang puspa) apakah dis juga mencintaimu ?

Puspa          : itu yang aku rasakan!

Vivi              : gombal! Kamu belom tahu siapa si johan itu! Aku sudah mengenalnya luar dalam sejak SMP. Selain kamu, mungkin sekarang ada beberapa gadis lain yang sedang dirayunya pula!

Puspa          : (dengan suara meninggi) kau jangan menuduh johan seperti itu, vi!

Vivi              : aku tidak menuduh. Aku hanya mengungkapkan fakta kehidupan. Kau masih ingat kisah angela setahun yang lalu ?

Puspa          : angela lain dengan aku! Angela memang anak yang bernasib malang.

Vvi               : (mendekatipuspa) itulah contoh, bukan nasib!betapa menggebu-gebu ia mencintai anton. Kita sudah berulang-ulang mengingatkannya. Tapi, kemanamana selalu berdua, kayak suami-istri saja. Tahu-tahu … hmmmmm ? (mendekatkan kedua tangannya didekat perutnya dan menggerakkannya membentuk setengah lingkaran) hamil dia! Kemudian, dipecat dari sekolah. Dan anton? Ia tari … ngacir tak tahu dimana rimbanya. Enak kan dia sebagai laki-laki?

Puspa          : tetapi, aku tetap tidak bias menerima keseimpulan generalisasimu yang aneh dan tidak berdar itu. Apalagi, itu menyangkut si johan!

Vivi              : itu hak kamu. Aku juga tidak pernah memaksa kamu setuju dengan pertanyaanku tadi.

Puspa          : (berdiri, memandang vivi) eh, vi! Mengapa sih kita hanya melihat keburukan orang dan tidak mau melihat segi-segi kebaikannya ? begitupun buruknya wajah laki-laki dihadapan kita? Mengapa kita tidak menaruh simpati dan menganggap bahwa pada dasarnya manusia adlah baik ?

Vivi              : menurut pendidikan agama memang harus begitu, tapi kau jangan lupa, nahwa itu adalah sebuah konsepyang sering tidak cocok dengan praktik kehidupan. Itulah manusia, punya konsep hidup yang sangat baik tetapi sering tidak bias mewujudkannya dalam kehidupan konkret!

Puspa          : ah, sudahlah (meletakkan botol minuman) aku nyerah. Aku gak mau berlama-lama disini daripada persahabatan kita terancam. Yuk, aku jalan duluan ke kelas! (puspa berlalu dari kantin)

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s